Mempersiapkan Generasi Indonesia Hebat

Sebagai seorang dokter gigi yang setiap hari menangani puluhan pasien di Puskesmas, aku tahu bahwa kesehatan gigi dan mulut masyarakat kita bisa dikatakan belum bagus. Setiap hari masih banyak pasien datang dengan keluhan gigi berlubang, bengkak, karang gigi tebal dan keluhan lainnya.

Maka tidak heran jika membaca hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan dimana hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional 25,9% warga negara Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut. Bahkan di 14 provinsi angkanya di atas angka nasional 25,9% tadi.

Yang memprihatinkan, sebagian besar (68,9%) masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut tadi ternyata tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan dari tenaga medis. Tidak mendapatkan perawatan di sini bisa disebabkan karena keengganan memeriksakan diri ke Puskesmas, maupun karena minimnya fasilitas kesehatan di tempat tersebut.

Kebiasaan Sikat Gigi yang Salah

Masih tingginya prevalensi masalah gigi dan mulut di Indonesia ternyata ada kaitannya dengan kebiasaan sikat gigi yang salah. Sebagian besar (76,6%) orang Indonesia menyikat gigi pada saat mandi pagi dan sore. Ini salah. Mestinya sikat gigi dilakukan setelah makan pagi dan sebelum tidur malam. Namun kebiasaan yang benar ini hanya dilakukan oleh 2,3% penduduk Indonesia!

Kebiasaan sikat gigi yang salah tersebut berdampak pada menumpuknya sisa makanan di dalam rongga mulut dalam waktu yang lama. Sisa makanan yang menumpuk tersebut bisa memicu terjadinya lubang pada gigi, bau mulut kurang sedap, karang gigi yang tebal dan  bisa merembet ke kesehatan tubuh yang lain.

Screening Gigi dan Mulut di Sekolah

Salah satu program yang dijalankan secara rutin oleh Puskesmas, khususnya Puskesmas Keputih Surabaya, dan menjadi bagian dari tugasku adalah melakukan screening kesehatan gigi dan mulut di sekolah-sekolah yang berada di wilayah layanan Puskesmas.

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa 60-90% siswa sekolah di negara berkembang (termasuk Indonesia) menderita karies gigi dan masalah gigi yang lain. Maka screening di sekolah-sekolah ini bisa dikatakan tepat sasaran.

Jenjang sekolah yang menjadi target screening mulai dari PAUD, TK, SD, SMP dan SMA. Baik negeri maupun swasta. Sedangkan untuk perguruan tinggi sementara ini belum diagendakan mengingat keterbatasan waktu dan tenaga medis dibanding jumlah pasien yang harus di-screening.

Screening di Sekolah

Screening di Sekolah

Dalam screening tersebut seluruh siswa dan siswi diperiksa rongga mulutnya satu per satu. Siswa siswi yang mengalami masalah gigi dan mulut kemudian dirujuk ke Puskesmas untuk dilakukan perawatan lebih lanjut.

Tak lupa pada setiap agenda screening itu diberikan contoh kepada siswa siswi, bagaimana cara sikat gigi yang benar dan kapan waktunya. Awalnya masih banyak yang beranggapan bahwa sikat gigi dilakukan ketika mandi pagi dan sore, namun dengan informasi yang diberikan ketika screening ini mereka menjadi tahu dan berjanji akan merubah kebiasaan sikat gigi yang salah tersebut.

Kegiatan screening ke sekolah-sekolah seperti itu dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun. Diharapkan dengan screening tersebut mereka yang punya masalah gigi dan mulut bisa segera terdeteksi dan dilakukan perawatan, dan meningkat kesadaran dirinya dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.

Penyuluhan di Komunitas Masyarakat

Selain aktif melayani masyarakat di Puskesmas Keputih dan melakukan screening kesehatan gigi dan mulut di sekolah-sekolah, aku terpanggil untuk turun ke komunitas masyarakat yang belum tersentuh layanan kesehatan.

Misalnya yang pernah aku lakukan bersama komunitas Hijabee Surabaya yang melakukan bakti sosial di komunitas masyarakat Makam Rangkah. Ya, mereka tinggal di makam. Mereka adalah pendatang yang bekerja sebagai kuli bangunan, tukang becak, pedagang kecil dan banyak juga yang pengangguran, yang tidak memiliki tempat tinggal sehingga terpaksa menempati lahan pemakaman.

Belajar sikat gigi yang baik dan benar

Penyuluhan di komunitas masyarakat Makam Rangkah

Di komunitas masyarakat Makam Rangkah tersebut ada banyak sekali anak kecil usia sekolah SD dan SMP. Banyak yang belum tahu bagaimana cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. Oleh karena itu mereka sangat antusias ketika aku menjelaskan bagian-bagian gigi manusia dan dilanjutkan dengan sikat gigi bersama. Mereka juga senang karena mendapatkan pembagian sikat gigi satu per satu 🙂

Kesehatan Gigi, Pondasi Indonesia Hebat!

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang masyarakatnya sehat. Maka program kesehatan gigi dan mulut yang aku lakukan di Puskesmas, di sekolah-sekolah dan di komunitas masyarakat adalah salah satu cara untuk mempersiapkan generasi Indonesia Hebat.

Memang masih banyak persoalan (di dunia kesehatan Indonesia), tapi bukankah itu medan perjuangan (untuk terus ditingkatkan)? Aku juga ingin terus berjuang di tengah masyarakat sesuai dengan profesiku sebagai dokter gigi. Aku ingin turut mempersiapkan generasi penerus bangsa yang sehat demi tercapainya cita-cita luhur Indonesia Hebat!

Aku membayangkan dalam 5 tahun ke depan Indonesia Hebat akan terwujud. Dimulai dari tahun 2014 ini dengan terpilihnya seorang presiden yang dekat, mau mendengarkan dan memiliki kepedulian yang tinggi kepada masyarakatnya, maka program-program kesehatan gigi dan mulut bisa segera ditingkatkan. Sinergi antara pemerintah melalui Puskesmas bergotong-royong dengan komunitas masyarakat akan dapat mempercepat tercapainya target bersama.

Maka Insya Allah pada tahun 2019 nanti seluruh masyarakat bisa mengakses fasilitas layanan kesehatan yang berkualitas dengan mudah dan gratis. Itulah Indonesia Hebat! (*)

One Response

  1. apin 20/07/2014

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.