Proses Kelahiran Anak Kedua (Pengalaman Pribadi)

Alhamdulillah kemarin, Minggu 25 Oktober 2015 pukul 22.32 telah lahir anak kedua kami di RS Putri Surabaya. Proses persalinan dipandu dan dibantu dokter Pungky Mulawardhana, Sp.OG, putra dari dokter Poedjo Hartono, Sp.OG (K) yang membantu persalinan anak pertama kami dulu.

abhimashura-ahmad-revandra

Alhamdulillah kelahiran anak pertama dan kedua berlangsung secara normal (per vaginam) dan lancar. Anak pertama dulu saya tiba di rumah sakit sekitar pukul 14.30 dan lahir pukul 19.15. Anak kedua kemarin malam saya tiba di rumah sakit pukul 20.30 dan pukul 22.32 sudah lahir.

Berbeda dengan Anak Pertama

Melahirkan anak kedua berbeda dengan anak pertama. Meskipun sudah berpengalaman melahirkan anak pertama, harus diakui masih ada rasa nervous. Suami yang mendampingi sejak awal hingga akhir juga terlihat nervous. Setiap saya kontraksi, suami terus berdoa, laa haula walaa quwwata illa billaah.. memohon kekuatan dari Sang Maha Kuat.

Kontraksi yang saya rasakan sudah mulai terasa sejak Sabtu siang saat masih di Puskesmas. Untungnya Sabtu hanya masuk sampai pukul 13.00. Meskipun mulai kontraksi, saya berusaha menikmati dan rileks. Pulang kerja itu saya dan suami pergi makan siang ke Warung Bu Kris di Jemursari dan pulangnya mampir Dapur Cokelat untuk membeli kue ulang tahun untuk anak pertama.

Saya sudah feeling bahwa ini bukan his palsu. Tapi kontraksi betulan menjelang kelahiran. Rasanya berbeda dengan kontraksi palsu (braxton hicks) yang muncul sebentar lalu menghilang. Kontraksi betulan menjelang kelahiran itu rasanya makin kuat dan makin kuat. Sabtu lama menjelang pukul 24.00 kontraksi yang saya rasakan terasa makin kuat. Namun saya tetap berusaha rileks dan berusaha tidur, menemani Mas Isham, anak pertamaku.

Stagnan di Bukaan 2 Selama 8 Jam!

Bangun tidur di Minggu pagi, seperti biasa saya harus menghandle anak pertama. Mandi bersama, lalu jalan-jalan di sekitar perumahan bertiga: saya, suami dan Mas Isham. Waktu jalan-jalan pagi itu saya sempat beberapa kali kontraksi. Saya nikmati sambil tetap jalan.

Pukul 08.00 saya diantar suami meluncur ke RS Putri. Ini adalah RS bersalin di Surabaya yang paling dekat dengan rumah kami. Tiba ri RS saya masih kuat. Menunggui suami melakukan pendaftaran di resepsionis, lalu naik ke lantai 3 masih berjalan sendiri. Memang masih kuat rasanya.

Tiba di ruang bersalin, suster langsung memasang alat untuk memantau detak jantung bayi. Sekitar 1 jam dipantau, hasilnya bagus. Terdeteksi pula bahwa memang sudah ada kontraksi, namun intensitasnya belum begitu kuat. Beberapa kontraksi bahkan sama sekali tidak terasa, namun perut sangat kencang dan mengeras. Kata suster, itu wajar karena ini anak ke-2, beda dengan anak pertama.

Setelah memantau detak jantung, barulah suster melakukan VT (vaginal toucher) alias periksa dalam. Ternyata baru bukaan 2. Alhamdulillah sudah ada bukaan, berarti sebentar lagi memang mau melahirkan. Lendir mulai keluar disertai flek darah. Ini tanda-tanda primer ketika mau melahirkan!

Saya ditemani suami terus menunggu di ruang bersalin. Suster segera mengabari dokter Poedjo Hartono, Sp.OG (K) yang selama ini memantau kehamilan anak kedua ini. Dokter biasanya akan memantau dari jauh. Jika sudah mendekati bukaan lengkap, barulah dokter meluncur ke lokasi.

Kontraksi yang saya rasakan saat itu bisa dikatakan belum teratur meski sudah ada bukaan. Jarak antar-kontraksi kadang 30 menit, kadang 15 menit, kadang 1 jam. Suami yang sebelumnya memprediksi anak kami akan lahir pukul 14.00 mulai merubah prediksinya. “Mungkin belum saatnya ma!”, begitu kata suamiku.

Benar, pukul 16.00 dokter Poedjo datang dan melakukan VT. Hasilnya ternyata masih tetap bukaan 2. Artinya belum ada kemajuan. Sudah 8 jam  di RS tapi tetap bukaan 2. Dokter Poedjo mempersilakan saya untuk menunggu di ruang perawatan, atau kalau rumahnya dekat boleh pulang saja. Maka kami putuskan pulang.

Proses Kelahiran Intensif 2 Jam

Sampai rumah saya langsung mandi dan bermain sama Mas Isham. Saya tidak mengurangi aktivitas. Terus jalan-jalan keliling rumah. Supaya bukaan makin maju. Tapi setiap kontraksi datang saya berusaha tidak mengelurkan suara, karena itu akan membuat Mas Isham merasa bersalah dan akhirnya nangis. Lucunya anakku…

Saya laporkan terus perkembangan kontraksi ke suami yang pergi ke masjid mulai maghrib hingga isya karena ada pengajian rutin Minggu malam. Suami pulang dari masjid setelah isya dan sempat keluar lagi nyari makan malam untuknya dan untuk saya. Suami beli nasi pecel dan saya minta dibungkuskan nasi goreng.

Pukul 20.00 nasi goreng datang, langsung saya makan sambil momong Mas Isham. Meskipun kung dan utinya sudah datang, Mas Isham memang lebih suka bermain sama saya. Sambil makan malam, sambil momong, sambil terus menikmati datangnya kontraksi yang makin kuat dan kain teratur.

Puncaknya pukul 20.30 dimana kontraksi makin kuat dan makin sering, maka kami putuskan kembali ke RS. Itupun setelah susah payah mengalihkan perhatian Mas Isham.

Tiba di RS pukul 20.45 dan saya sudah tidak kuat lagi jika harus berjalan sendiri. Maka suami menurunkan saya di depan lobby RS Putri dan memanggil suster. Sementara saya dibawa dengan kursi roda menuju ruang bersalin, suami memarkir mobil dan mengurus pendaftaran ulang.

Tiba di ruang bersalin, suster melakukan VT dan ternyata sudah bukaan 4. Alhamdulillah ada kemajuan. Kontraksi yang saya rasakan makin terasa kencang, makin sakit. Jarak antar kontraksi dari per 5 menit terus memendek hingga per 2 menit.

Pukul 21.30 suster kembali melakukan VT dan sudah bukaan 5. Suami terus mendampingi dan memberikan semangat, sambil tiada henti dia berdzikir laa haula walaa quwwata illa billah.. Disamping itu, sambil kontraksi saya terus medengarkan murottal quran yang diputar dari ipad.

Kontraksi makin intensif dan makin sering. Kadang 2 menitan, kadang 1 menitan. Pukul 22.00 saya merasakan desakan yang sangat hebat, seperti hendak buang air besar. Sudah sangat dekat. Saya minta suami memencet tombol emergency. Suster segera masuk dan kembali melakukan VT. Sudah bukaan 8! Alhamdulillah…

Masih kurang 2 lagi. Kontraksi makin hebat. Pukul 22.15 suster kembali melakukan VT dan sudah bukaan lengkap! Ketuban mulai rembes. Suster segera menghubungi dokter Poedjo dan dokter Pungky. Yang berhasil dikontak duluan dokter Pungky dan beliau segera meluncur ke lokasi.

Untung sudah malam dan Minggu pula sehingga jalanan sepi. Dokter Pungky datang dalam 10 menit. Begitu dokter datang, saya langsung dibimbing untuk melakukan pose mengejan. Yaitu kedua paha dibuka lebar, ditahan dengan tangan. Posisi kepala sedikit diangkat, ditahan suami saya.

Dokter Pungky memberi perintah nanti begitu kontraksi datang maka saya harus mengejan dengan sekuat tenaga dan nekat. Full power. Ada 3 suster yang mendampingi dengan sabar sejak tadi, ikut memberikan semangat.

Kontraksi datang dengan hebatnya. Saya segera mengejan sekuat tenaga. Rasanya seperti orang mau BAB dengan muatan yang sangat besar. Baru satu kali mengejan, kontraksi sudah pergi dan bayi belum berhasil keluar.

Sebentar kemudian kontraksi hebat datang lagi. Bismillah. Laa haula walaa quwwata illa billah. Saya tarik nafas panjang dan menekan ke bawah, mengejan sekuat tenaga. Mak brulll… “Oeekkk… oeeekkk.. oeeekkkk”, Alhamdulillah anakku terlahir ke dunia! Waktu tepat menunjukkan pukul 22.32. Suami langsung menciumiku. Badanku terasa lemas.

Inisiasi Menyusui Dini

Sementara saya masih harus melahirkan ari-ari (placenta), si baby dibawa keluar dulu untuk diberi bedong dan dihangatkan. Proses melahirkan placenta ini terbilang cepat dan tidak perlu mengejan terlalu keras, juga tanpa rasa nyeri seperti melahirkan bayi tadi.

Sebentar kemudian si baby dibawa masuk dan ditaruh di dada saya. Alhamdulillah anakku sempurna fisiknya. Dia terlihat menikmati pelukan saya, mamanya. Bibirnya mulai bergerak-gerak mencari ASI. Waktu itu posisi saya masih terlentang di bed persalinan. Dokter melakukan penjahitan pada luka bekas epistomi.

Proses penjahitan epistomi selesai sekitar pukul 23.00. Saya dan suami mengucapkan terimakasih ke dokter Pungky dan semua suster yang membantu persalinan si kecil. Saya masih harus di-observasi selama 2 jam. Bayi dibawa ke ruang bayi diantar oleh suami.

Observasi 2 Jam

Setelah mengantarkan baby ke ruang bayi, suami kembali menemani saya di ruang persalinan. Kami ngobrol ngalor ngidul tentang proses persalinan tadi. Pukul 00.30 suster masuk, memencet-mencet perut saya untuk mengeluarkan sisa darah. Hasilnya bagus, darah yang keluar adalah darah kental, bukan darah segar. Artinya tidak ada pendarahan yang membutuhkan penanganan khusus. Maka saya boleh pindah ke ruang perawatan.

Selesai

Alhamdulillah… demikian tadi kisah tentang proses kelahiran anak kedua saya. Semoga ibu-ibu yang sedang bersiap melahirkan anaknya dapat diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam melahirkan anaknya secara normal tanpa sectio caesar. Aamiin…

4 Comments

  1. Meli 23/05/2016
    • dionella 05/06/2016
  2. Asih 06/12/2016
    • dionella 21/12/2016

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.